Sebelum buku yang Kamis
ini aku baca kembali,aku ingin mengikuti jejak si penulis menuliskan beberapa
kisah yang beberapa hari ini mengisi ruang-ruang di sel otakku.
Diawali dari langkah
sendiriku saat pulang dari perpus,aku berjalan sambil melamun.Suasana sekolah tak lagi seriuh pagi makin memuluskan
jalanku untuk memikirkan apa-apa saja saat langkah kakiku beranjak dari satu
anak tangga ke anak tangga yang lain.
Hari Kamis ini aku
pulang sore lagi.Bukan kebiasaanku pulang sore ,tapi hari itu aku sengaja pulang
sore.Apalagi ketika beberapa temanku meminta file film tugas Sejarah.Proses mengcopy
yang cukup lama membuat jam pulangku jadi tidak seperti biasanya.
Sebenarnya bukan itu masalahnya.Sore yang singkat itu membekas dihatiku. Bukan
karena aku tidak sengaja berpapasan dengannya,tapi sore itu ada banyak
pelajaran yang aku “save as” sebagai sesuatu.
Kisah dimulai ketika
aku sampai dikelas untuk mengambil tasku.Teman-temanku memintaku file
film.Dengan perantara laptop seorang kawan pria aku menunggu proses mengcopy
itu selesai.Sialnya kawan pria tadi
salah mengcopy film karena kebetulan didalam flashdiskku ada dua film
.Yang pertama film tugas dari pak guru sementara satunya lagi film pesanan
teman sebangku.Alhasil ,teman dekat wanita kawan priaku itu salah paham dan dia
marah-marah sambil mengedor-gedor jendela kelas .Usut punya usut ,dia cemburu
melihatku dan beberapa temanku menggunakan fasilitas laptop kawan priaku
itu.Dan,sedihnya flashdisku dicabut tanpa ada proses eject .”Duh,gusti “aku
cuma membatin.Bukan bermaksud menggurui,tetapi ada sesuatu yang membuat tertawa
geli dan menjadikan peristiwa kecil ini sebagai refleksi bagi diriku sendiri.
Kecemburuan memang tanda cinta dan itu wajar saja ,asal ......................yaa
jangan begitu.
Belum usai acara
Tuhan menyentuh hatiku lewat peristiwa singkat tadi. Aku kembali ditegur Tuhan
lewat perjalananku mencari laptop untuk membantu teman-temanku mengcopy film
tugas itu.Seperti biasa,aku yang berjalan paling belakang dengan menenteng buku
super banyak kembali merenung. Kusapa setiap tiang-tiang mati di sekolahku
ini,mereka membalasku dengan kembali menceritakan betapa terseok-seoknya aku
dulu di awal-awal tahun pelajaran hingga perjalananku menjadi sediki “tegar”
seperti sekarang ini. Masa-masa MOPD,masa-masa mencari tanda tangan kakak
kelas, Fashion Show Asrul-Milla yang narasinya aku buat ,atau berbagai
event-event yang telah aku lalui dua tahun disekolah ini kembali merasuk di
ingatanku.”Ya Tuhan,aku bersyukur bisa mengalami peristiwa penuh dinamika
ini “gumamku lirih.
Cerita tak berhenti
sampai disitu. Setelah berhasil mengcopy film aku bergegas pulang karena jam
sudah hampir menunjukan pukul empat sore.Apalagi aku harus membeli beberapa
barang dan sialnya aku lupa membawa uang saku lebih.Lagi-lagi aku di tegur
Tuhan melalui sentian-sentilan kecil.Karena beberapa hari belakangan saat uang
sakuku cukup lebih ,aku lupa membuat anggaran seperti biasanya.
Saat perjalanan
kepalaku juga tak henti-hentinya memikirkan sesuatu.Ya ,sesuatu yang cukup
membuat beberapa hariku jengah. Seseorang yang tak mau kusebutkan namanya itu
memintaku,atau lebih tepatnya memaksaku untuk menjadi pribadi orang lain. Otaku
serasa mau meledak saat aku kehabisan cara memenuhi permintaannya itu.Tapi apa
daya hingga hari ini aku masih menjadi Rere dan tidak bisa menjadi orang lain
seperti yang ia maksud.Hidup memang begitu. Ada masanyamengenang,menangis,tertawa,dibentak,dimarahi,dicemoh,dipuji,ditertawakan,bergembira,sedih
dan semua varian rasa kehidupan.