Pilih hatimu

12 Maret 2016

BERLARI

"Kamu boleh menganggapku sakit jiwa. Terserahlah"

Kediamanku sepekan ini saya jadikan "renungan" atas apa yang telah terjadi antara kamu dan saya.Intinya sederhana, saya terbentur "kecewa dan realita".

Di negeri realistis yang kadang hedonis ini,semua butuh apa-apa.Tuhan,berkenan menyandingkanmu lewat latar belakangnya yang sempurna lalu membuatku tak bisa berbuat apa-apa selain berkata : " Sabar Re, ini cobaan lagi,ini ujian lagi". "SADAR ,Re pilihannya yang terbaik"

Bagi saya dia adalah penjelmaan representasi MAHAKARYA Tuhan yang teramat istimewa dan SEMPURNA.Tentunya,jelas bagimu juga.Dengan wajah cantiknya ,dengan kemampuan berhitung cepatnya,dengan kebaikannya,semua serba ada dan komplit. Saya menyadari semuanya.

Parahnya ,saya tidak bisa menjadi dirinya. Saya tidak bisa Anda tuntut untuk menyamainya.Dan ,lagi-lagi saya sadar saya tidak bisa membantu dan menuruti semua kemauan Anda.Tangan saya selalu bergetar jika mengingat memori lama dimana "sama" saya dipaksa untuk menjadi diri orang lain. Saya berontak dan akhrinya semua ...

Saya tidak sebanding dengan dia. Kerjaanya saya cuma berziarah ke taman-taman puisi,mengikuti lekuk perbaitnya lalu menyelam ke danau rasa dan institusi kemudia tenggelam dalam dunia filosofi.Saya tahu itu akan menyusahkan Anda .Saya tidak mau membebani Anda.

Harusnya ini dijalani,tapi nyatanya?
saya malah mencoba lari
saya pengecut,tidak seberani seekspresif dirinya
dan itu NYATA

Diam-diam saya sering memandangi wajahnya.Benar,wajahnya memang cantik. Ah,nyali saya ciut seketika.
apalagi saat saya memikirkan "kegilaanmu" padanya. Seperti ada perasaan sakit yang merambat tapi saya tidak ketahui apa,mengapa dan bagaiman .

Mungkin saya adalah salah satu pengisi kuota lingkaran takdir dimana semua rasa kadang tidak tumbuh di tempat yang pas.
Anda seperti "dongeng" yang tak mungkin bisa saya rengkuh dan genggam



.habis d.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar