Pilih hatimu

27 Maret 2016

LAMUNAN KAMIS SENJA



Sebelum buku yang Kamis ini aku baca kembali,aku ingin mengikuti jejak si penulis menuliskan beberapa kisah yang beberapa hari ini mengisi ruang-ruang di sel otakku.
Diawali dari langkah sendiriku saat pulang dari perpus,aku berjalan sambil melamun.Suasana  sekolah tak lagi seriuh pagi makin memuluskan jalanku untuk memikirkan apa-apa saja saat langkah kakiku beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain.
Hari Kamis ini aku pulang sore lagi.Bukan kebiasaanku pulang sore ,tapi hari itu aku sengaja pulang sore.Apalagi ketika beberapa temanku meminta file film tugas Sejarah.Proses mengcopy yang cukup lama membuat jam pulangku jadi tidak seperti biasanya. Sebenarnya bukan itu masalahnya.Sore yang singkat itu membekas dihatiku. Bukan karena aku tidak sengaja berpapasan dengannya,tapi sore itu ada banyak pelajaran yang aku “save as” sebagai sesuatu.
Kisah dimulai ketika aku sampai dikelas untuk mengambil tasku.Teman-temanku memintaku file film.Dengan perantara laptop seorang kawan pria aku menunggu proses mengcopy itu selesai.Sialnya kawan pria tadi  salah mengcopy film karena kebetulan didalam flashdiskku ada dua film .Yang pertama film tugas dari pak guru sementara satunya lagi film pesanan teman sebangku.Alhasil ,teman dekat wanita kawan priaku itu salah paham dan dia marah-marah sambil mengedor-gedor jendela kelas .Usut punya usut ,dia cemburu melihatku dan beberapa temanku menggunakan fasilitas laptop kawan priaku itu.Dan,sedihnya flashdisku dicabut tanpa ada proses eject .”Duh,gusti “aku cuma membatin.Bukan bermaksud menggurui,tetapi ada sesuatu yang membuat tertawa geli dan menjadikan peristiwa kecil ini sebagai refleksi bagi diriku sendiri. Kecemburuan memang tanda cinta dan itu wajar saja ,asal ......................yaa jangan begitu.
Belum usai acara Tuhan menyentuh hatiku lewat peristiwa singkat tadi. Aku kembali ditegur Tuhan lewat perjalananku mencari laptop untuk membantu teman-temanku mengcopy film tugas itu.Seperti biasa,aku yang berjalan paling belakang dengan menenteng buku super banyak kembali merenung. Kusapa setiap tiang-tiang mati di sekolahku ini,mereka membalasku dengan kembali menceritakan betapa terseok-seoknya aku dulu di awal-awal tahun pelajaran hingga perjalananku menjadi sediki “tegar” seperti sekarang ini. Masa-masa MOPD,masa-masa mencari tanda tangan kakak kelas, Fashion Show Asrul-Milla yang narasinya aku buat ,atau berbagai event-event yang telah aku lalui dua tahun disekolah ini kembali merasuk di ingatanku.”Ya Tuhan,aku bersyukur bisa mengalami peristiwa penuh dinamika ini “gumamku lirih.
Cerita tak berhenti sampai disitu. Setelah berhasil mengcopy film aku bergegas pulang karena jam sudah hampir menunjukan pukul empat sore.Apalagi aku harus membeli beberapa barang dan sialnya aku lupa membawa uang saku lebih.Lagi-lagi aku di tegur Tuhan melalui sentian-sentilan kecil.Karena beberapa hari belakangan saat uang sakuku cukup lebih ,aku lupa membuat anggaran seperti biasanya.
Saat perjalanan kepalaku juga tak henti-hentinya memikirkan sesuatu.Ya ,sesuatu yang cukup membuat beberapa hariku jengah. Seseorang yang tak mau kusebutkan namanya itu memintaku,atau lebih tepatnya memaksaku untuk menjadi pribadi orang lain. Otaku serasa mau meledak saat aku kehabisan cara memenuhi permintaannya itu.Tapi apa daya hingga hari ini aku masih menjadi Rere dan tidak bisa menjadi orang lain seperti yang ia maksud.Hidup memang begitu. Ada masanyamengenang,menangis,tertawa,dibentak,dimarahi,dicemoh,dipuji,ditertawakan,bergembira,sedih dan semua varian rasa kehidupan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar