Pilih hatimu

28 Juni 2016

CATATAN 'DIBALIK' CATATAN : KADO DARI 'BALIK' KARDUS



Dingin berhembus menusuk persendian tulangku. Dengan mata yang belum terkantuk dan sempat terpejam beberapa waktu, dingin datang menghampiriku.Menembus pintu dan ventilasi  kamarku ,tempat dimana aku terbaring berusaha untuk tertidur.Sepi , tak ada kata lain bagi jiwa yang merasa terperangkap dalam sekap . Dan,suasana sahur belum tiba  sehingga‘hening’ datang tanpa ku undang.Lalu bersinku mulai datang tatkala badan merasa temperatur menjadi lebih dingin ketimbang biasanya.
Aku berserah,ini seperti rasa yang pernah aku rasakan sebelumnya. Nyeri dan pilu menjadi satu.Hatiku selalu punya cara ‘khas’  untuk menawarkan kerinduan. Imajinasiku selalu punya cara ‘jitu’ dalam menawarkan khayalan dan impian.
Sama seperti luka yang selalu ada ketika hati dirundung rasa kecewa dan imajinasi terasa menyesakan dada.Menimbulkan rasa pahit yang begitu menggigit ketika semua ternyata tak bisa tercipta sebuah diorama.
Aku masih saja mengingat caramu memandangiku . Bahkan lebih dari itu pada sebentuk buah simalakama aku berani merajut harap padamu. Harap yang hanya tinggal harap.
Mungkin saat ini kau menganggapku sebagai orang gila yang berani ada dalam kehidupanmu.Kehidupan yang lekat akan kata sempurna,bahagia tanpa sengsara dan luka lara.Aku  kini ingin tak perduli tentang apa yang kau pikirkan dan kumandangkan.Meski mungkin perjalanan untuk mencapai tahap ‘legowo’ itu tidak semudah membalikan kedua belah telapak tangan.
“Hei kau ! pernahkah kau merasa rindu ? Apa seperti ini kira-kira rasanya ?” Hanya berani dalam diam dan memandang dari kejauhan . Melihat-lihat langit dan rintik hujannya lalu terbaring dengan pikiran yang jauh terbang tak beraturan.
Aku ingin mencintaimu dengan caraku,Sesederhana itu.Aku ingin mencintaimu secara kontras seperti melawan arah sepeda motor yang membawa hadiah dalam kardus untukku.
Kau mesti tahu itu.Lewat untaian kalimat –kalimat yang mungkin sulit kau pahami.Seperti sulitnya aku menjadi yang ada di hatimu.
Namun aneh , meski begini kau selalu berhasil melemparkan asaku secara lamban tapi pasti.

“Sudah cukup lama tak ku lihat sapaan darimu . Kemanakah kamu ? Saking sibuknya dirimu dengan title studi baru ? Atau kau mulai menjauh dariku ? Sama seperti deru motor yang perlahan menghilang setelah mengantar sebuah : ‘Kado dibalik kardus’ untuk rumah no.29 Jalan Cemara.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar