Dingin berhembus menusuk persendian tulangku. Dengan mata yang
belum terkantuk dan sempat terpejam beberapa waktu, dingin datang
menghampiriku.Menembus pintu dan ventilasi
kamarku ,tempat dimana aku terbaring berusaha untuk tertidur.Sepi , tak
ada kata lain bagi jiwa yang merasa terperangkap dalam sekap . Dan,suasana
sahur belum tiba sehingga‘hening’
datang tanpa ku undang.Lalu bersinku mulai datang tatkala badan merasa
temperatur menjadi lebih dingin ketimbang biasanya.
Aku berserah,ini seperti rasa yang pernah aku rasakan
sebelumnya. Nyeri dan pilu menjadi satu.Hatiku selalu punya cara ‘khas’ untuk menawarkan kerinduan. Imajinasiku
selalu punya cara ‘jitu’ dalam menawarkan khayalan dan impian.
Sama seperti luka yang selalu ada ketika hati dirundung rasa
kecewa dan imajinasi terasa menyesakan dada.Menimbulkan rasa pahit yang begitu
menggigit ketika semua ternyata tak bisa tercipta sebuah diorama.
Aku masih saja mengingat caramu memandangiku . Bahkan lebih dari
itu pada sebentuk buah simalakama aku berani merajut harap padamu. Harap yang
hanya tinggal harap.
Mungkin saat ini kau menganggapku sebagai orang gila yang berani
ada dalam kehidupanmu.Kehidupan yang lekat akan kata sempurna,bahagia tanpa
sengsara dan luka lara.Aku kini ingin
tak perduli tentang apa yang kau pikirkan dan kumandangkan.Meski mungkin
perjalanan untuk mencapai tahap ‘legowo’ itu tidak semudah membalikan
kedua belah telapak tangan.
“Hei kau ! pernahkah kau merasa rindu ? Apa seperti ini
kira-kira rasanya ?” Hanya berani dalam diam dan memandang
dari kejauhan . Melihat-lihat langit dan rintik hujannya lalu terbaring dengan
pikiran yang jauh terbang tak beraturan.
Aku ingin mencintaimu dengan caraku,Sesederhana itu.Aku ingin
mencintaimu secara kontras seperti melawan arah sepeda motor yang membawa
hadiah dalam kardus untukku.
Kau mesti tahu itu.Lewat untaian kalimat –kalimat yang mungkin
sulit kau pahami.Seperti sulitnya aku menjadi yang ada di hatimu.
Namun aneh , meski begini kau selalu berhasil melemparkan asaku
secara lamban tapi pasti.
“Sudah cukup lama tak ku lihat sapaan darimu . Kemanakah kamu ?
Saking sibuknya dirimu dengan title studi baru ? Atau kau mulai menjauh dariku
? Sama seperti deru motor yang perlahan menghilang setelah mengantar sebuah :
‘Kado dibalik kardus’ untuk rumah no.29 Jalan Cemara.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar