Sabar, ya
sabar itu kuncinya menghadapi segala problematika kehidupan dunia. Ada saja
masalah yang mengungkung proses kedewasaan kita . Baik masalah biasa ,masalah luar biasa bahkan masalah yang berkaitan
dengan hati dan jiwa setidaknya pernah ‘menyapa’ kehidupanku.
Masih segar di
ingatanku ketika aku harus mengalami ‘ditinggal’ dua orang terpenting dalam
hidupku secara berturut-turut. Atau ketika aku tahu bahwa orang yang ‘sempat’
aku cintai ternyata memilih sahabatku sendiri sebagai pilihannya . Atau ketika
orang yang aku tebak sebagai ‘dewa penyelamat ‘ ternyata juga meninggalkanku
dengan alasan yang menurutku tidak rasional kala itu.
Yang terbaru
aku harus menghadapi tingkah polah mereka yang kurang suka ketika aku
‘berdekatan ‘dengan seseorang. Alhasil,dengan sedikit terpaksa aku turuti semua
alur yang mereka pinta .Toh tak ada pembelaan sedikitpun dari pihak yang
aku perjuangkan itu.Jadi untuk apa ?
Kalau
ditelisik lebih dalam tentunya banyak manusia di dunia ini yang mengalami
pengalaman lebih berat ketimbang apa yang aku alami. Hanya saja membentuk
‘idealisme’ bahwa aku masih beruntung ada dalam tahapan mempercayai. Proses itu, dimana pendewasaanku dan cara berfikir terbentuk menjadi lebih
bijak . Semua proses tersebut tidaklah mudah tapi setidaknya aku
‘berusaha’.Berusaha semampuku.
Hingga akhir
hayatku semua masalah tidak akan pernah sirna menghampiri. Namun,ada sebuah
alasan ketika aku harus tetap tersenyum .Meski kadang kala senyumku itu bukan
senyum sesungguhnya. Tapi siapa yang perduli pada kebohongan sekecil itu? Jarang
Esensi
‘tersenyum’ sudah ku search kemana-mana .Tapi hasilnya? NIHIL .Pemaknaan esensi itu ternyata ada pada
diriku sendiri. Sejauh mana otakku berfikir keras tidak hanya saat ulangan
matematika tapi ketika menghadapi berbagai realita dan problematika.
Akan terus ada
dan banyak tipe-tipe manusia yang akan terus kutemui. Ada manusia yang menilai
dengan nama. Ada manusia yang ‘haus’ akan hedonisme dunia. Ada manusia dimana
ia sering mengabaikan hal-hal penting disektirnya. Ada manusia yang sering
berkata tanpa memperhatikan efek apa yang akan diterima oleh orang yang ia
cerca. Ada orang yang hanya mendekat ketika ia butuh suatu hal. Ada manusia
yang asli baik dan terlihat baik . Ada manusia yang ‘haus’ pada kepopuleran.
Dan, ada pulamanusia yang ‘haus’ pada
pujian .Dunia terasa hingar-bingar.
‘Dunia
dengan aneka rupa dan rupanya aku harus tetap tersenyum.Demi orang yang sudah tertulis
di Lauhul Madfudz untukku.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar