Pilih hatimu

1 Juni 2016

CATATAN PASCA UAS : KETIKA AKU (HARUS) TERSENYUM



Sabar, ya sabar itu kuncinya menghadapi segala problematika kehidupan dunia. Ada saja masalah yang mengungkung proses kedewasaan kita . Baik masalah biasa ,masalah  luar biasa bahkan masalah yang berkaitan dengan hati dan jiwa setidaknya pernah ‘menyapa’ kehidupanku.
Masih segar di ingatanku ketika aku harus mengalami ‘ditinggal’ dua orang terpenting dalam hidupku secara berturut-turut. Atau ketika aku tahu bahwa orang yang ‘sempat’ aku cintai ternyata memilih sahabatku sendiri sebagai pilihannya . Atau ketika orang yang aku tebak sebagai ‘dewa penyelamat ‘ ternyata juga meninggalkanku dengan alasan yang menurutku tidak rasional kala itu.
Yang terbaru aku harus menghadapi tingkah polah mereka yang kurang suka ketika aku ‘berdekatan ‘dengan seseorang. Alhasil,dengan sedikit terpaksa aku turuti semua alur yang mereka pinta .Toh tak ada pembelaan sedikitpun dari pihak yang aku perjuangkan itu.Jadi untuk apa ?
Kalau ditelisik lebih dalam  tentunya  banyak manusia di dunia ini yang mengalami pengalaman lebih berat ketimbang apa yang aku alami. Hanya saja membentuk ‘idealisme’ bahwa aku masih beruntung ada dalam tahapan mempercayai. Proses  itu, dimana pendewasaanku  dan cara berfikir terbentuk menjadi lebih bijak . Semua proses tersebut tidaklah mudah tapi setidaknya aku ‘berusaha’.Berusaha semampuku.
Hingga akhir hayatku semua masalah tidak akan pernah sirna menghampiri. Namun,ada sebuah alasan ketika aku harus tetap tersenyum .Meski kadang kala senyumku itu bukan senyum sesungguhnya. Tapi siapa yang perduli pada kebohongan sekecil itu? Jarang
Esensi ‘tersenyum’ sudah ku search kemana-mana .Tapi hasilnya? NIHIL .Pemaknaan esensi itu ternyata ada pada diriku sendiri. Sejauh mana otakku berfikir keras tidak hanya saat ulangan matematika tapi ketika menghadapi berbagai realita dan problematika.
Akan terus ada dan banyak tipe-tipe manusia yang akan terus kutemui. Ada manusia yang menilai dengan nama. Ada manusia yang ‘haus’ akan hedonisme dunia. Ada manusia dimana ia sering mengabaikan hal-hal penting disektirnya. Ada manusia yang sering berkata tanpa memperhatikan efek apa yang akan diterima oleh orang yang ia cerca. Ada orang yang hanya mendekat ketika ia butuh suatu hal. Ada manusia yang asli baik dan terlihat baik . Ada manusia yang ‘haus’ pada kepopuleran. Dan, ada  pulamanusia yang ‘haus’ pada pujian .Dunia terasa hingar-bingar.
‘Dunia dengan aneka rupa dan rupanya aku harus tetap tersenyum.Demi orang yang sudah tertulis di Lauhul Madfudz untukku.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar