Pilih hatimu

6 Juni 2016

CATATAN TENGAH MALAM : LANGIT DAN LAUT

                                                                                                                        -Diperbarui

Malam ini dengan meleburkan segenap panca indra aku terbang menyusuri setiap bagian dari imaji
Malam ini aku sedang berandai-andai memerankan sebuah diorama 
Diorama sebuah cerita 
Cerita tentang 'kita'

Meski aku canggung mengucapkannya ,tapi imaji ini nyata
Menyeretku menjauh dari sebuah massa
Melewati beribu-ribu jarak dan berjuta-juta galaksi cahaya

Malam ini aku ingin menjadi laut
Dan kamu kuputuskan untuk memerankan langit


Laut dan langit adalah dua hal yang berbeda
Mereka tidak sama 
Meski mereka duduk bersama dan bahkan buka puasa bersama tinggi mereka tidak senada

Laut berada di bawah naungan langit
Ia tanpa enggan memandangi langit yang nampak indah di angkasa


Langit nampak gagah dengan warna birunya
Meski laut juga berwarna sama 
Tapi mereka tetap berbeda

Lalu bagaimana jika sudah berbeda?
Apa harus berbeda dahulu sebelum menjadi sama?

Laut memandang langit sebagai sesuatu yang amat tinggi
Tidak mengeherankan ketika laut mulai berjalan mundur secara teratur agar mimpinya tidak berjalan ke arah 'ngelantur'

Laut melihat langit sebagai sesuatu yang luar biasa
Dari warna birunya senja akan melukiskan sebuah eksotisme yang indahnya tidak terkira

Laut kini  menemukan alasan yang semakin menjadi mengapa 'awan ' sering menghalangi-halangi pandangan langit untuk menengok ke bawah melihat laut

Laut kini pasrah ,
Ia tak bisa murka dengan menunjukan gelombang ganasnya 
Laut kini tak berdaya,
Ia tak bisa bergerak setelah semuanya berasa tidak ada hasilnya
 Laut kini menjadi bertanya-tanya : " Hai langit,pernahkah kau mengindahkan dunia yang ada di bawahmu yaitu aku  ?"




" Bila aku menjadi laut dan kau menjadi langit ,apakah yang akan menjadi batasannya ?"
"Bila aku menjadi laut dan kau menjadi langit, apakah yang akan menjadi pembedannya ?"
"Bukankah warna biru kita sudah menunjukan kepada 'mereka' bahwa kita (mungkin) bisa bersama?"
"Bagaimana jika semua ini hanyalah permainan monopolimu semata ?"
" Siapakah yang akan terlebih dahulu terluka ?"

Gombong, 24 Juni 1998


Dan kini aku kembali pada harapan nan kosong itu
Dimana aku tetap terkungkung disini bersama luka dan pencampakan yang menyesakan hati
Tanpa ada upaya perbaikan darimu,
aku jadi ragu apa aku harus bertahan untukkmu ?
Untukmu yang 'jarang' berbuat baik kepadaku


:
"Beri aku lebih dari sekedar imaji. Jangan buat aku hanya terus tenggelam dalam puisi. Dan buat aku terbebas dari rasa pencampakan yang menyesakan hati "


Tidak ada komentar:

Posting Komentar