Kamu boleh ,
Boleh berteman dengan manusia siapapun itu
Baik pria maupun wanita
Sebanyak-banyaknya
Kamu boleh,
Mengisi waktu mu bahkan menghabiskan sebagian besar waktumu dengan manusia berjenis wanita-wanita itu
Semaumu,sepuasmu
Kamu boleh,
Berteman denganku,
Dengan manusia sepertiku
Meski 'lebih' dari itu yang sempat aku mau
Tapi,
Manusia tetap manusia
Manusia tetap punya titik keegoisannya
Manusia tetap punya rasa ingin maunya
Manusia memang seperti itu kan ?
Aku harus menjadi manusia yang seperti apa untuk bisa 'senyaman' Januari berdekatan denganmu ?
Pengalaman hari ini aku bertemu dengan berbagai rupa manusia
Manusia -manusia yang berjubel untuk mengembalikan aset yang bukan dipunya
Manusia-manusia dengan berbagai kriteria
Aku didorong rasa penasaran,
Manusia-manusia itu aku dekati satu persatu
Berharap ada sedikit 'ilmu' yang bisa disimpan dalam saku
Bukankah belum ada pelajaran 'memanusiakan manusia '?
Jadi tak ada salahnya aku belajar kan ?
Manusia pertama ini
Datang menemani Jumat pagiku ,
Kulihat rautnya dan ia tetap sama dengan segala porsi kurang dan lebihnya
Kuberanjak kutinggalkan manusia itu,
Beralih pada manusia yang kedua
Kusimak lakunya,senyumnya,gurat wajahnya
Sepertinya ia sedang sibuk dan rasa lelah sedang menyelimutinya
Takut menganggu kesibukannya aku pergi ke manusia ketiga
Manusia yang ternyata menceritakan yang belum ada
Dan ketika yang ada itu ada ia terdiam seketika
Mulutnya tak lagi bersuara
Bising dengan ceritanya aku lanjutkan pencarianku pada manusia keempat
Darinya aku mendengar ungkapan-ungkapan bernada kecewa dengan bumbu-bumbu pedas
Sama seperti manusia yang sebelumnya ia menceritakan yang belum ada
Dan persis ia akan bungkan ketika yang ada itu ada
Bosan dengan rancuan-rancuan cerita seperti yang didapat hari sebelumnya
Aku akhirnya beranjak juga
Aku menemukan manusia kelima
Ternyata manusia kelima ini lebih dari yang kukira
Sebelum langkah lunglaiku pergi nada-nada tinggi namun tidak gembira kembali kudengar
Setelah tingkat kebosanan beranjak menjadi rasa jenuh akhirnya langkah lunglaiku melangkah juga
Mencoba pergi dan berlari dari ratusan kriteria manusia -manusia satu, dua ,tiga, empat, dan lima
Bahkan seribu manusia atau bisa jadi jutaan manusia
Langkahku terhenti ketika bertemu dengan manusia keenam,
Manusia keenam yang tidak mempunyai indera keenam ini aku mengenalnya
Meski tak mengenal betul karena aku tak mau mengenal betul
Ia beberapa kali mengenalkanku pada berbagai rasa
Rasa kehidupan yang mendera
Manusia keenam itu pernah membawaku pada perasaan 'terluka'
Atau mungkin perasaan lebih dari perasaan terluka
Ya perasaan merasa jadi manusia tapi bukan manusia
Ia menghantamku sekeras yang ia suka
Ia mengamuk padaku semau yang ia mau
Dan ia menyentilku untuk tidak berdekatan denganmu
Tak ingin melihat amukannya
Aku pergi darinya,
Dan pulang kembali ke rumah dengan membawa pertanyaan
"Bagaimana memanusiakan manusia ?"
"Dan kamu tergolong manusia yang bagaimana ?"
Jumat Kliwon, 30 Juni 1965
Boleh berteman dengan manusia siapapun itu
Baik pria maupun wanita
Sebanyak-banyaknya
Kamu boleh,
Mengisi waktu mu bahkan menghabiskan sebagian besar waktumu dengan manusia berjenis wanita-wanita itu
Semaumu,sepuasmu
Kamu boleh,
Berteman denganku,
Dengan manusia sepertiku
Meski 'lebih' dari itu yang sempat aku mau
Tapi,
Manusia tetap manusia
Manusia tetap punya titik keegoisannya
Manusia tetap punya rasa ingin maunya
Manusia memang seperti itu kan ?
Aku harus menjadi manusia yang seperti apa untuk bisa 'senyaman' Januari berdekatan denganmu ?
Pengalaman hari ini aku bertemu dengan berbagai rupa manusia
Manusia -manusia yang berjubel untuk mengembalikan aset yang bukan dipunya
Manusia-manusia dengan berbagai kriteria
Aku didorong rasa penasaran,
Manusia-manusia itu aku dekati satu persatu
Berharap ada sedikit 'ilmu' yang bisa disimpan dalam saku
Bukankah belum ada pelajaran 'memanusiakan manusia '?
Jadi tak ada salahnya aku belajar kan ?
Manusia pertama ini
Datang menemani Jumat pagiku ,
Kulihat rautnya dan ia tetap sama dengan segala porsi kurang dan lebihnya
Kuberanjak kutinggalkan manusia itu,
Beralih pada manusia yang kedua
Kusimak lakunya,senyumnya,gurat wajahnya
Sepertinya ia sedang sibuk dan rasa lelah sedang menyelimutinya
Takut menganggu kesibukannya aku pergi ke manusia ketiga
Manusia yang ternyata menceritakan yang belum ada
Dan ketika yang ada itu ada ia terdiam seketika
Mulutnya tak lagi bersuara
Bising dengan ceritanya aku lanjutkan pencarianku pada manusia keempat
Darinya aku mendengar ungkapan-ungkapan bernada kecewa dengan bumbu-bumbu pedas
Sama seperti manusia yang sebelumnya ia menceritakan yang belum ada
Dan persis ia akan bungkan ketika yang ada itu ada
Bosan dengan rancuan-rancuan cerita seperti yang didapat hari sebelumnya
Aku akhirnya beranjak juga
Aku menemukan manusia kelima
Ternyata manusia kelima ini lebih dari yang kukira
Sebelum langkah lunglaiku pergi nada-nada tinggi namun tidak gembira kembali kudengar
Setelah tingkat kebosanan beranjak menjadi rasa jenuh akhirnya langkah lunglaiku melangkah juga
Mencoba pergi dan berlari dari ratusan kriteria manusia -manusia satu, dua ,tiga, empat, dan lima
Bahkan seribu manusia atau bisa jadi jutaan manusia
Langkahku terhenti ketika bertemu dengan manusia keenam,
Manusia keenam yang tidak mempunyai indera keenam ini aku mengenalnya
Meski tak mengenal betul karena aku tak mau mengenal betul
Ia beberapa kali mengenalkanku pada berbagai rasa
Rasa kehidupan yang mendera
Manusia keenam itu pernah membawaku pada perasaan 'terluka'
Atau mungkin perasaan lebih dari perasaan terluka
Ya perasaan merasa jadi manusia tapi bukan manusia
Ia menghantamku sekeras yang ia suka
Ia mengamuk padaku semau yang ia mau
Dan ia menyentilku untuk tidak berdekatan denganmu
Tak ingin melihat amukannya
Aku pergi darinya,
Dan pulang kembali ke rumah dengan membawa pertanyaan
"Bagaimana memanusiakan manusia ?"
"Dan kamu tergolong manusia yang bagaimana ?"
Jumat Kliwon, 30 Juni 1965
Tidak ada komentar:
Posting Komentar