Pilih hatimu

1 Juni 2016

CATATAN PASCA UAS : Jika rasaku ini rasamu (2)



Ulangan. Ya kalimat yang ditambahi embel-embel kenaikan kelas XI itu harus kulalui kurang lebih satu minggu . Mulai dari Bahasa Indonesia,Pendidikan agama hingga Sejarah Indonesia harus jadi santapanku diahkir-akhir bulan Mei ini. Namun ,bukan nilai atau trik-trik jitu mengerjakan soal yang aku bahas kali ini. Kali ini aku ingin membahas esensi dari bulan Mei.
Bulan Mei ini kegiatanku dapat dikatakan cukup padat. Mulai dari persiapan menjadi siswi tingkat akhir, persiapan UKK itu sendiri dan proses ‘melupakan’ seseorang.Seseorang yang Ulangan Tengah Semester  2 lalu masih sempat mengirimiku pesan “semangat belajarnya ya”.
Mungkin aku saja yang terlalu antusias dan menggebu ingin menyelami kehidupannya. Nyatanya terhitung sejak pertengkaran hebat Sabtu malam itu hingga detik ini saat aku menulis cerita ini tidak ada satupun ungkapan atau sapaan seperti biasanya.
Bukan aku ingin mengemis untuk diberi ucapan. Aku hanya belum terlalu bisa menerima kenyataan bahwa dia memang sudah berubah. Ya  berubah dan aku menganggapnya terbang amat sangat tinggi hingga sangat sulit untuk aku kejar lagi.
Harusnya sedari ‘awal’ aku sadar bahwa cerita ini tidak akan pernah abadi. Aku sadar bahwa ucapanya ,tegur sapanya atau bahkan perhatiannya hanya ingin merespon apa yang aku ucapkan tidak lebih . Sudah dengan sangat jelas dia mengatakan ‘t-i-d-a-k’ dan ‘t-i-d-a-k’. Kalimat yang biasa tapi terdengar sangat menyayat hati. Hatiku sendiri bukan hatinya.
Aku jadi makin sadar bahwa begitu banyak pihak yang kurang suka jika aku ‘berdekatan’ dengannya atau bahkan jika memiliku suatu komitmen . Tak akan aku jelaskan siapa saja pihak-pihak tersebut. Toh apa guna ? Mereka hanya mampu melihat dan mengejek saja tanpa tahu proses apa yang sedang aku kerjakan.
Sebenarnya sedih ,marah,dan kecewa ketika aku harus beberapa kali atau bahkan sering mendengar kalimat-kalimat tidak karuan yang keluar dari mulut mereka tentang ‘kita’. Upss,maaf bukan kita tapi aku dengannya . Kita adalah ungkapan masa lalu yang harusnya sudah aku jadikan spam.
Aku tidak akan pernah lupa kalimat itu. Kalimat yang berhasil membuyarkan hafalan penjasorkesku.Kalimat yang berhasil membuatku menangis setelah pulang dari sekolah.
 Ini ‘ANEH’ tapi ini nyata . Seolah semua ini adalah lelucon dan skenario yang sudah dia buat rapih-rapih dan jauh-jauh hari untuk melukaiku . Kenyataanya seperti tidak saling mengenal.
Bagaimana bisa ini dikatakan biasa ? Aku sudah terlampau terluka .Benar-benar hal yang susah ketika aku harus mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
 Jumat ini aku jadi makin sadar. Aku manusia yang amat amat amat sangat banyak kurangnya. Tidak seperti dirinya atau wanita lain yang dekat dengannya yang mampu membuatnya terpesona.
Terpesona apa dia denganku ? Beda ketika ia selalu antusias bercerita tentangnya didepanku. Seolah-olah manusia tersempurna dan terberuntung  di dunia ini adalah dia.
Awalnya mungkin aku tidak sependapat dengannya. Tapi akhir-akhir ini aku jadi tau alasannya mengapa ia selalu jatuh hati pada wanita pujaannya itu.
Jelas aku sangat terlampau jauh dengannya. Dia pintar sementara aku hanya ‘pernah’ pintar. Keluarganya utuh dan berada sementara aku hanya ‘pernah’ memiliki keluarga utuh dan sederhana. Kecantikannya luar biasa sementara aku ‘tidak pernah’ ada cantik-cantiknya setiap harinya.
Ya tuhan mana ada yang mampu menolak pesonanya ? Pantas saja ia pergi dan beralih pada yang lain. Dan aku sudah tidak punya daya lagi untuk mempertahankannya.
Aku..
“Entah apa yang aku rasakan padanya ,aku juga tidak tahu. Tiba-tiba ia meninggalkanku dan aku cukup berat untuk melepaskannya. Meski cerita ini singkat dan ‘berakhir’ aku benar-benar kecewa padanya. Mungkin aku belum terbiasa dengan benar. Aku berharap pada waktu bahwa waktu akan membantuku setidaknya terbiasa tanpanya. “
“Melupakannya adalah hal yang anehnya diinginkannya. Seumpama ia sangat ingin pergi dariku.”
“Aku lelah terus menangis karena alasan yang sebenarnya konyol. Aku dianggap merebutnya dari pihak yang seharusnya bersamanya. Aku dianggap tidak pantas bersamanya bahkan hanya untuk sekedar berteman saja.”

Lewat daun-daun yang gugur di jalan beji tiga yang sempat aku sapa sepulang sekolah . Aku titipkan salam rinduku padanya.
“Jangan dengarkan mereka re, “
-XI IPA 6 /9
Jumat ,
sehabis ukk sejarah indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar