Ulangan. Ya
kalimat yang ditambahi embel-embel kenaikan kelas XI itu harus kulalui kurang
lebih satu minggu . Mulai dari Bahasa Indonesia,Pendidikan agama hingga Sejarah
Indonesia harus jadi santapanku diahkir-akhir bulan Mei ini. Namun ,bukan nilai
atau trik-trik jitu mengerjakan soal yang aku bahas kali ini. Kali ini aku
ingin membahas esensi dari bulan Mei.
Bulan Mei ini
kegiatanku dapat dikatakan cukup padat. Mulai dari persiapan menjadi siswi
tingkat akhir, persiapan UKK itu sendiri dan proses ‘melupakan’
seseorang.Seseorang yang Ulangan Tengah Semester 2 lalu masih sempat mengirimiku pesan “semangat
belajarnya ya”.
Mungkin aku
saja yang terlalu antusias dan menggebu ingin menyelami kehidupannya. Nyatanya
terhitung sejak pertengkaran hebat Sabtu malam itu hingga detik ini saat aku
menulis cerita ini tidak ada satupun ungkapan atau sapaan seperti biasanya.
Bukan aku
ingin mengemis untuk diberi ucapan. Aku hanya belum terlalu bisa menerima
kenyataan bahwa dia memang sudah berubah. Ya
berubah dan aku menganggapnya terbang amat sangat tinggi hingga sangat
sulit untuk aku kejar lagi.
Harusnya
sedari ‘awal’ aku sadar bahwa cerita ini tidak akan pernah abadi. Aku sadar
bahwa ucapanya ,tegur sapanya atau bahkan perhatiannya hanya ingin merespon apa
yang aku ucapkan tidak lebih . Sudah dengan sangat jelas dia mengatakan
‘t-i-d-a-k’ dan ‘t-i-d-a-k’. Kalimat yang biasa tapi terdengar sangat menyayat
hati. Hatiku sendiri bukan hatinya.
Aku jadi makin
sadar bahwa begitu banyak pihak yang kurang suka jika aku ‘berdekatan’
dengannya atau bahkan jika memiliku suatu komitmen . Tak akan aku jelaskan
siapa saja pihak-pihak tersebut. Toh apa guna ? Mereka hanya mampu melihat dan
mengejek saja tanpa tahu proses apa yang sedang aku kerjakan.
Sebenarnya
sedih ,marah,dan kecewa ketika aku harus beberapa kali atau bahkan sering
mendengar kalimat-kalimat tidak karuan yang keluar dari mulut mereka tentang
‘kita’. Upss,maaf bukan kita tapi aku dengannya . Kita adalah ungkapan masa
lalu yang harusnya sudah aku jadikan spam.
Aku tidak akan
pernah lupa kalimat itu. Kalimat yang berhasil membuyarkan hafalan
penjasorkesku.Kalimat yang berhasil membuatku menangis setelah pulang dari
sekolah.
Ini ‘ANEH’ tapi ini nyata . Seolah semua ini
adalah lelucon dan skenario yang sudah dia buat rapih-rapih dan jauh-jauh hari
untuk melukaiku . Kenyataanya seperti tidak saling mengenal.
Bagaimana bisa
ini dikatakan biasa ? Aku sudah terlampau terluka .Benar-benar hal yang susah
ketika aku harus mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Jumat ini aku jadi makin sadar. Aku manusia
yang amat amat amat sangat banyak kurangnya. Tidak seperti dirinya atau wanita
lain yang dekat dengannya yang mampu membuatnya terpesona.
Terpesona apa
dia denganku ? Beda ketika ia selalu antusias bercerita tentangnya didepanku.
Seolah-olah manusia tersempurna dan terberuntung di dunia ini adalah dia.
Awalnya
mungkin aku tidak sependapat dengannya. Tapi akhir-akhir ini aku jadi tau alasannya
mengapa ia selalu jatuh hati pada wanita pujaannya itu.
Jelas aku
sangat terlampau jauh dengannya. Dia pintar sementara aku hanya ‘pernah’
pintar. Keluarganya utuh dan berada sementara aku hanya ‘pernah’ memiliki
keluarga utuh dan sederhana. Kecantikannya luar biasa sementara aku ‘tidak
pernah’ ada cantik-cantiknya setiap harinya.
Ya tuhan mana
ada yang mampu menolak pesonanya ? Pantas saja ia pergi dan beralih pada yang
lain. Dan aku sudah tidak punya daya lagi untuk mempertahankannya.
Aku..
“Entah
apa yang aku rasakan padanya ,aku juga tidak tahu. Tiba-tiba ia meninggalkanku
dan aku cukup berat untuk melepaskannya. Meski cerita ini singkat dan ‘berakhir’
aku benar-benar kecewa padanya. Mungkin aku belum terbiasa dengan benar. Aku
berharap pada waktu bahwa waktu akan membantuku setidaknya terbiasa tanpanya. “
“Melupakannya
adalah hal yang anehnya diinginkannya. Seumpama ia sangat ingin pergi dariku.”
“Aku
lelah terus menangis karena alasan yang sebenarnya konyol. Aku dianggap
merebutnya dari pihak yang seharusnya bersamanya. Aku dianggap tidak pantas
bersamanya bahkan hanya untuk sekedar berteman saja.”
Lewat daun-daun yang gugur di
jalan beji tiga yang sempat aku sapa sepulang sekolah . Aku titipkan salam
rinduku padanya.
“Jangan
dengarkan mereka re, “
-XI
IPA 6 /9
Jumat ,
sehabis ukk sejarah indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar