Rabu kemarin aku bermalam di sebuah rumah di pinggiran jalan
daendels.Jalan yang dibangun oleh daendels ketika Netherland berkuasa selalu
ramai kendaraan tiap menitnya.Bahkan,ketika kendaraan berat lewat berderu aku
bisa merasakan tanah sedikit bergetar karena goncangan.
Malam itu aku tidak bisa tidur,sementara temanku itu sudah
terlelap pulas dalam mimpinya.Malam yang cukup hening itu membawa pikiranku
bercabang entah kemana. Kembali memikirkan apa-apa saja yang sudah terjadi
belakangan ini.
Beberapa kali aku merasa ‘privasi’ku seperti terbakar habis.
Ketika aku ingin merahasiakan sesuatu hal malahan hal itu terbongkar tanpa
kusengaja.Sialnya, beberapa kali pula aku harus menghadapi dampak negatif yang
deras menghantamku.
Aku bingung harus marah kepada siapa. Apa aku harus marah
pada diriku sendiri,pada mereka yang mengutak –atik privasiku , Atau aku harus
meluapkan kemarahan dan kekeselanku padanya ? .Padahal secara logika ia yang
membawaku pada kubangan cerita tak bertepi ini,pada kalimat-kalimat pelambungan
sesaat,pada perhatian-perhatian yang tanpa sebab ,dan pada gelombang
kebimbangan.Apa aku harus mengadilinya untuk memberikan kehidupan normalku?
Tak bisa aku elak ketika aku takut untuk mulai berjalan
mundur.Menganggap semuanya terasa baik-baik saja. Menganggap aku yang mudah
‘trenyuh’ untuk mulai berhenti menangis . Atau pura-pura tuli ketika mereka
mulai ‘menggunjingkan’ sikapku .Aku selalu berusaha untuk menjadi yang
‘terbaik’ untuknya. Bahkan terkadang aku
mesti berani mengesampingkan perasaanku
sendiri.Tapi,apa yang kudapat? Apa yang kuterima sekarang?
Aku harus membulatkan tekadku untuk kembali ke duniaku,Dunia
dimana aku tidak menjadi penganggum menunggu kabarnya
Aku lelah terus memperdebatkan idealismeku yang berbeda
dengannya. Kita tercipta terlalu berbeda dan harapan yang sangat jauh pula.Aku
menghargainya tapi ia enggan melakukan hal yang sama .Ia terlalu
sibuk dengan dunianya .
Ahh,ada apa denganku? Mengapa aku menjadi sebegitu perduli
dengan perasaanku? Biasanya aku akan menjadi orang yang ‘sok’ rela pada
perasaan . Kemarin malahan dengan entengnya mengirim keadaan ‘up to
date’tentangnya ,padahal hati
kecilku.................
Aku terus bertanya-tanya setelah semua apa yang kurasa kukorbankan ‘nihil’bahagianya .Masih kuingat jelas ketika
aku berharap bukunya akan dihibahkan kepadaku,atau ketika kukira ia akan mau
membantuku menggambar sketsa wajah Pierre Tendean,pahlawan idolaku sebagai
kenang-kenangan .
Aku takut pada perasaan-peraasan yang tidak tuntas
tersampaikan .Aku takut memendamnya sendirian tapi aku juga enggan untuk
membagikan .Aku tidak tahu mau ku apa dan bagaimana.Sementara di lain sisi dia
hanya tahu cara memarahiku,memojokanku,bercerita wanita lain didepanku,dan membanding-bandingkan
aku dengan yang lain.
Apa aku bisa tahan berlama-lama dengan orang semacam itu ?
Jika aku tidak punya ‘kesabaran’ cukup ekstra pasti aku sudah sangat membencinya
. Tapi,hati tak bisa menyembunyikan perasaanya. Selalu kutunda ,kupendam,kusabarkan
kemarahanku. Berharap sabar ini tidak punya ujung. Ya,setidaknya aku ‘pernah’berharap selebihnya aku tak tahu.
Sejauh ini bertemu dengannya belum ada dalam peta perjalanan
rute hidupku.Semua terasa kebetulan dimana aku bertemu dengan orang asing yang
ternyata terikat takdir denganku.
Kisah ini mengingatkanku pada esensi janji untuk menyayangi
diriku sendiri. Tidak bercimpung lagi pada dunia yang ‘masih’ menjadi momok untukku .Aku tidak ingin jantungku
berdegup lebih kencang selain kepada orang yang aku tunggu hingga kini. Aku
tidak mau ‘rinduku’terbagi kepada selain yang aku rindukan hingga kini. Aku
enggan membagikan tawaku ,sedihku,kelamnya perceraian orang tuaku,sebalnya aku
pada ibu,sakitku selain kepada orang yang hampir aku sebut sebagai ‘pujaan
hati’ hingga detik ini.Tapi sanggupkah ?
“Kepada Yang
Terhormat Tuan Herman Willian Daendels”
“Kepada jalanmu
aku bercerita,”
“Kepada
kendaraan-kendaraan yang hilir mudik aku titip tangis berharap tangis ini
segera pergi”
“Ketika suatu
malam kau menanyakan dimanakah aku meletakan namamu “
“ Dimana aku meletakan namamu?
Disini ,di dalam hatiku”
“Sepertinya kamu
salah paham ,ketika huruf-huruf yang sering berjejer di statusku adalah akibat
seperti kisah kita “
“Itu berbeda, “
“Dia menyukaiku
akupun menyukainya ,tapi karena suatu alasan masing-masing dari kita tidak bisa
bersatu “
“ Coba tengok
denganmu !”
“Apa kau
menyukaiku ? TIDAK”
“Apa kau
menyanyangiku ? TIDAK “
“Jadi kepergianmu
hanya menambah sedih hidupku yng sudah terlampau sedih “
“ “Yang paling
kusesali adalah sikapmu yang semakin berubah,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar