Pilih hatimu

1 Juni 2016

JALAN DAENDELS MALAM HARI



Rabu kemarin aku bermalam di sebuah rumah di pinggiran jalan daendels.Jalan yang dibangun oleh daendels ketika Netherland berkuasa selalu ramai kendaraan tiap menitnya.Bahkan,ketika kendaraan berat lewat berderu aku bisa merasakan tanah sedikit bergetar karena goncangan.
Malam itu aku tidak bisa tidur,sementara temanku itu sudah terlelap pulas dalam mimpinya.Malam yang cukup hening itu membawa pikiranku bercabang entah kemana. Kembali memikirkan apa-apa saja yang sudah terjadi belakangan ini.
Beberapa kali aku merasa ‘privasi’ku seperti terbakar habis. Ketika aku ingin merahasiakan sesuatu hal malahan hal itu terbongkar tanpa kusengaja.Sialnya, beberapa kali pula aku harus menghadapi dampak negatif yang deras menghantamku.
Aku bingung harus marah kepada siapa. Apa aku harus marah pada diriku sendiri,pada mereka yang mengutak –atik privasiku , Atau aku harus meluapkan kemarahan dan kekeselanku padanya ? .Padahal secara logika ia yang membawaku pada kubangan cerita tak bertepi ini,pada kalimat-kalimat pelambungan sesaat,pada perhatian-perhatian yang tanpa sebab ,dan pada gelombang kebimbangan.Apa aku harus mengadilinya untuk memberikan kehidupan normalku?
Tak bisa aku elak ketika aku takut untuk mulai berjalan mundur.Menganggap semuanya terasa baik-baik saja. Menganggap aku yang mudah ‘trenyuh’ untuk mulai berhenti menangis . Atau pura-pura tuli ketika mereka mulai ‘menggunjingkan’ sikapku .Aku selalu berusaha untuk menjadi yang ‘terbaik’ untuknya. Bahkan  terkadang aku mesti  berani mengesampingkan perasaanku sendiri.Tapi,apa yang kudapat? Apa yang kuterima sekarang?
Aku harus membulatkan tekadku untuk kembali ke duniaku,Dunia dimana aku tidak menjadi penganggum menunggu kabarnya
Aku lelah terus memperdebatkan idealismeku yang berbeda dengannya. Kita tercipta terlalu berbeda dan harapan yang sangat jauh pula.Aku menghargainya  tapi ia  enggan melakukan hal yang sama .Ia terlalu sibuk dengan dunianya .
Ahh,ada apa denganku? Mengapa aku menjadi sebegitu perduli dengan perasaanku? Biasanya aku akan menjadi orang yang ‘sok’ rela pada perasaan . Kemarin malahan dengan entengnya mengirim keadaan ‘up to date’tentangnya  ,padahal hati kecilku.................
Aku terus bertanya-tanya setelah semua apa yang kurasa kukorbankan  ‘nihil’bahagianya .Masih kuingat jelas ketika aku berharap bukunya akan dihibahkan kepadaku,atau ketika kukira ia akan mau membantuku menggambar sketsa wajah Pierre Tendean,pahlawan idolaku sebagai kenang-kenangan .
Aku takut pada perasaan-peraasan yang tidak tuntas tersampaikan .Aku takut memendamnya sendirian tapi aku juga enggan untuk membagikan .Aku tidak tahu mau ku apa dan bagaimana.Sementara di lain sisi dia hanya tahu cara memarahiku,memojokanku,bercerita wanita lain didepanku,dan membanding-bandingkan aku dengan yang lain.
Apa aku bisa tahan berlama-lama dengan orang semacam itu ? Jika aku tidak punya ‘kesabaran’ cukup ekstra pasti aku sudah sangat membencinya . Tapi,hati tak bisa menyembunyikan perasaanya. Selalu kutunda ,kupendam,kusabarkan kemarahanku. Berharap sabar ini tidak punya ujung. Ya,setidaknya aku  ‘pernah’berharap selebihnya aku tak tahu.
Sejauh ini bertemu dengannya belum ada dalam peta perjalanan rute hidupku.Semua terasa kebetulan dimana aku bertemu dengan orang asing yang ternyata terikat takdir denganku.
Kisah ini mengingatkanku pada esensi janji untuk menyayangi diriku sendiri. Tidak bercimpung lagi pada dunia yang ‘masih’ menjadi  momok untukku .Aku tidak ingin jantungku berdegup lebih kencang selain kepada orang yang aku tunggu hingga kini. Aku tidak mau ‘rinduku’terbagi kepada selain yang aku rindukan hingga kini. Aku enggan membagikan tawaku ,sedihku,kelamnya perceraian orang tuaku,sebalnya aku pada ibu,sakitku selain kepada orang yang hampir aku sebut sebagai ‘pujaan hati’ hingga detik ini.Tapi sanggupkah ?


“Kepada Yang Terhormat Tuan Herman Willian Daendels”
“Kepada jalanmu aku bercerita,”
“Kepada kendaraan-kendaraan yang hilir mudik aku titip tangis berharap tangis ini segera pergi”
“Ketika suatu malam kau menanyakan dimanakah aku meletakan namamu “
                  Dimana aku meletakan namamu? Disini ,di dalam hatiku”

“Sepertinya kamu salah paham ,ketika huruf-huruf yang sering berjejer di statusku adalah akibat seperti kisah kita “
“Itu berbeda, “
“Dia menyukaiku akupun menyukainya ,tapi karena suatu alasan masing-masing dari kita tidak bisa bersatu “
“ Coba tengok denganmu !”
“Apa kau menyukaiku ? TIDAK”
“Apa kau menyanyangiku ? TIDAK “
“Jadi kepergianmu hanya menambah sedih hidupku yng sudah terlampau sedih “
“ “Yang paling kusesali adalah sikapmu yang semakin berubah,”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar